Pages

Hubungan Agency dengan Loan to Deposit Ratio


       Bank adalah lembaga keuangan yang berfungsi sebagai perantara keuangan. Bank menerima simpanan uang dari masyarakat dan selanjutnya menyalurkannya kembali dalam bentuk kredit. Tujuan kredit itu sendiri adalah untuk mendapat profitability yang aman dan bank pemerintah yang mengemban tugas sebagai agent of development yaitu  sebagai penghimpun dan penyalur dana sangat diperlukan untuk kelancaran kegiatan ekonomi di sektor riil, kegiatan bank tersebut memungkinkan masyarakat melakukan investasi, distribusi, dan juga konsumsi barang dan jasa, mengingat semua kegiatan tersebut selalu berkaitan dengan penggunaan uang. Oleh karena itu salah satu kegiatan operasional bank yang digunakan untuk menyalurkan dana kepada masyarakat sebagai bentuk intermediasi yaitu dengan pemberian kredit.

       Dalam rangka mendorong masyarakat menggunakan dana bank melalui fasilitas kredit  ini kemudian bank banyak bekerjasama dengan lembaga-lembaga independent seperti leasing ataupun agency, yang berusaha menyediakan dana kepada masyarakat dengan persyaratan pinjaman yang lebih mudah. Seperti halnya agency yang berusaha meningkatkan kredit melalui pemberian pinjaman berupa uang kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah dibandingkan dengan melakukan pinjaman langsung kepada bank. Namun, dengan konsekuensi tingkat bunga yang lebih tinggi.

       Dalam Operasional Perbankan banyak usaha yang dilakukan untuk mencari indikator penting dan strategi guna mengukur tingkat kinerja suatu bank. Berkenaan dengan hal tersebut maka untuk mengetahui sampai seberapa besar tingkat ekspansi kredit yang dilakukan bank adalah dengan melihat nilai rasio kredit terhadap simpanan dana pihak ketiga yang dikenal dengan istilah Loan to Deposit Ratio. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar semua dana masyarakat sert modal sendiri dengan mengandalkan kredit yang tela didistribusika ke masyarakat.
Oleh karena itu, semakin banyak jumlah kredit yang diberikan maka semakin tinggi pula LDRnya, berlaku juga kebalikannya. Ini juga memperlihatkan bahwa jumlah kredit yang diberikan dari LDR tinggi maka jumlah laba yang diterima oleh bank dari pendapatan bunganya pun akan semakin tinggi.

Loan to Deposit Ratio

      Loan to Deposit Ratio (LDR) merupakan perbandingan antara kredit yang diberikan dengan dana berupa simpanan dari masyarakat, termasuk pinjaman yang diterima, tidak termasuk pinjaman subordinasi. Rasio ini menggambarkan kemampuan bank membayar kembali penarikan yang dilakukan nasabah deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Semakin tinggi rasio ini semakin rendah kemampuan likuiditas bank.  
Sangat tidak wajar apabila bank sampai menyalurkan dana melebihi dana yang diterimanya pada setiap tahun. LDR mempunyai peranan yang sangat penting sebagai indikator yang menunjukkan tingkat ekspansi kredit yang dilakukan bank sehingga LDR dapat juga digunakan untuk mengukur berjalan tidaknya suatu fungsi intermediasi bank.
Batas aman LDR suatu bank secara umum adalah sekitar 81%-100%. Sedangkan menurut ketentuan bank sentral, batas aman LDR suatu bank adalah 110%. Dalam arti apabila LDR di atas 110 persen berarti likuiditas bank kurang baik karena jumlah DPK (giro, tabungan, dll) tidak mampu menutup kredit yang disalurkan sehingga bank harus menggunakan dana antarbank (call money) untuk menutup kekurangannya. Dana dari call money bersifat darurat, sehingga Bank tidak menggunakan dana semacam itu untuk membiayai kredit.

Fungsi LDR

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa LDR pada saat ini berfungsi sebagai indikator intermediasi perbankan. Begitu pentingnya arti LDR bagi perbankan maka angka LDR pada saat ini telah dijadikan persyaratan antara lain :
·         Sebagai salah satu indikator penilaian tingkat kesehatan bank.
·         Sebagai salah satu indikator kriteria penilaian Bank Jangkar (LDR minimum 50%),
·         Sebagai faktor penentu besar-kecilnya GWM (Giro Wajib Minimum) sebuah bank.
·         Sebagai salah satu persyaratan pemberian keringanan pajak bagi bank yang akan merger.

Rumus LDR



Penyebab LDR Rendah

     Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa perbankan nasional pernah mengalami kemerosotan jumlah kredit karena diserahkan ke BPPN untuk ditukar dengan obligasi rekapitalisasi. Begitu besarnya nilai kredit yang keluar dari sistem perbankan di satu sisi dan semakin meningkatnya jumlah DPK yang masuk ke perbankan, maka upaya ekspansi kredit yang dilakukan perbankan selama sepuluh tahun terakhir sepertinya belum berhasil mengangkat angka LDR secara signifikan.

Agency

    Agency adalah suatu lembaga keuangan non bank yang bertugas menyediakan jasa kredit kepada masyarakat dengan jaminan lebih ringan daripada bank.. Agensi memberikan pinjaman berupa uang kepada masyarakat dengan syarat yang lebih mudah dibandingkan dengan melakukan pinjaman langsung kepada bank dengan konsekuensi tingkat bunga yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pinjaman yang diberi oleh agency adalah  kredit konumtif, yaitu kredit yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan debitur yang bersifat konsumtif (konsumsi masyarakat), seperti kartu kredit.

Agency kartu kredit

     Agency yang dibentuk oleh bank penerbit kartu kredit (Card Issuer) untuk memasarkan produk kartu kredit mereka ke masyarakat. Untuk pemasarannya agancy akan merekrut dan menugaskan para agen-agen kartu kredit mereka ke masyarakat. Pada dasarnya, perusahaan agensi bukan saja tergantung pada pinjaman tunai maupun kartu kredit saja tetapi juga obligasi dan berbagai produk bank lainnya, tergantung produk yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan serta kerjasama antara pihak bank dan perusahaan agensi. Banyak bank yang menjalin hubungan kerjasama dengan lembaga non bank ini, dengan alasan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas bank.

Hubungan Agency dan LDR

     Untuk meningkatkan rasio LDR, maka bank harus meningkatkan tingkat penyaluran kreditnya. dengan cara menaikkan agency sehingga bank tumbuh pesat karena indonesia termasuk conumer loan. Dengan kata lain, peningkatan agency akan membuat jumlah kartu kredit yg beredar dimasyarakat juga meningkat sehingga bank akan menyalurkan dana berupa pemberian kredit ke masyarakat yang mengakibatkan LDR naik.

Referensi :

Jurnal Pengaruh Pemberian Kredit Terhadap Loan To Deposit Ratio dan Dampaknya Pada Pendapatan Bunga Bank oleh  Iman Pirman Hidayat  dan Hana Hujaemah.

Cash Reserves


Untuk mempertahankan likuiditasnya manajemen bisnis perbankan membentuk cadangan kas. Dilihat dari strategi untuk mempertahankan likuiditas, cadangan dalam perbankan dapat dibedakan dalam cadangan primer dan cadangan sekunder. Cash reserve adalah dana cadangan yang berbentuk tunai dan digunakan untuk menjaga keselamatan bank, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Penguasaan cash reserve merupakan bagian penting dari tugas manajemen likuiditas karena akan sangat menentukan apakah bank tersebut dapat merebut kepercayaan masyarakat atau tidak. Banyak bank yang sukses karena mereka berhasil mengelola cadangan tunai ini dengan dana yang baik.

Pengertian Cadangan Kas
Menurut bank Indonesia, cadangan bank adalah sejumlah uang tunai (rupiah dan valuta asing) yang dicadangkan dan disimpan di dalam khasanah serta diperhitungkan dalam pemenuhan kewajiban likuiditas minimum bank; serta fasilitas kredit yang dapat diperpanjang disertai rekening koran yang memperbolehkan nasabahnya untuk mencairkan ceknya dalam jumlah yang lebih daripada saldo yang tersedia tanpa dibebani biaya karena cerukan.

Cadangan kas merupakan aset yang dapat diakses dalam waktu yang sangat singkat ketika kebutuhan uang tunai muncul. Istilah ini sebenarnya digunakan untuk merujuk kepada dua jenis aset keuangan. Cadangan kas bisa merujuk ke saldo dalam memeriksa dan rekening tabungan atau deposito bank jangka pendek lainnya yang dapat diakses segera. Istilah ini juga dapat mencakup investasi jangka pendek yang memiliki tingkat likuiditas tinggi, seperti instrumen pasar uang. Kebanyakan bisnis beroperasi dengan setidaknya beberapa cadangan kas. Hal ini penting, karena cadangan tersebut memungkinkan untuk memenuhi pengeluaran yang sedang berlangsung dengan relatif mudah. Sudah lazim untuk sebuah bisnis mempertahankan cadangan dana khusus, seperti dana darurat atau kontingensi, efektif menciptakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan dalam hal beberapa biaya tak terduga yang dikeluarkan oleh perusahaan. Sebagai contoh, cadangan kas yang dipertahankan dalam dana kontingensi dapat digunakan untuk terus membayar gaji kepada karyawan sementara fasilitas yang rusak akibat bencana alam diperbaiki, atau untuk membantu dalam biaya perbaikan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan penerbangan besar mempunyai dana $ 1,5 miliar pada cadangan kas untuk membiayai operasi dan menghindari kebangkrutan. Analis keuangan menggunakan beberapa rasio yang meliputi cadangan kas untuk menilai kecukupan modal. Sementara perusahaan dengan cadangan kas yang rendah mungkin dapat meminjam, layanan utang menempatkan lebih banyak tekanan pada cadangan kas masa depan. Jika cadangan kas yang habis dan kredit tidak tersedia perusahaan mungkin default pada utang mereka dan menjadi bangkrut. Untuk sebuah perusahaan investasi, cadangan kas berjangka mengambil makna lain. Aset yang dikelola mungkin termasuk cadangan kas yang besar sebagai bagian dari strategi investasi dana. Misalnya, reksa dana mungkin memegang cadangan kas yang melebihi apa yang dibutuhkan untuk pencairan tak terduga. Untuk individu, cadangan kas adalah tabungan atau kredit diadakan untuk menangani keadaan darurat atau kontinjensi lainnya.

Jenis-Jenis Cadangan Kas Bank

Dana cadangan ini terbagi atas dua bagian, yaitu :
A.  Cadangan Primer (Primary Reserve)
                Primary reserve diperlukan untuk memenuhi permintaan efektif dari para nasabah yang muncul secara tiba-tiba. Bahasa teknis perbankan dalam mewujudkan primary reserve ini  adalah alat-alat yang dikuasai dan tercermin pada pos-pos aktiva, berupa : saldo kas dan saldo rekening pada Bank Indonesia. Cadangan primer merupakan garis pertahanan pertama sebuah bank jika para deposan menarik dana mereka.

Menurut Komaruddin Sastradipoera :
”Cadangan primer (primary reserve) dalam bank adalah aktiva tanpa dapat mendatangkan pendapatan (liquid non-earning assets) yang meliputi kas dan tagihan kepada bank lain, termasuk pula kas untuk memenuhi ketentuan cadangan wajib dan kas untuk operasi bank”.

B. Cadangan Sekunder
                Cadangan sekunder digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas yang jangka waktunya kurang dari satu tahun yang sekaligus dimanfaatkan untuk mencari laba. Cadangan sekunder merupakan pinjaman dan sekuritas yang dapat dikonversikan ke dalam uang tunai tanpa kerugian yang serius. Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), Sertifikat Deposito, dan Surat Dagang adalah beberapa instrumen yang termasuk dalam cadangan sekunder. Cadangan sekunder tidak semata-mata sebagai penyangga cadangan utama, tetapi juga sebagai dana yang lincah bergerak dan ditanam dalam bentuk investasi jangka pendek dengan sifat-sifat yang tetap current.

Menurut Komaruddin Sastradipoera :
”Cadangan sekunder (secondary reserve) dalam bank adalah aktiva cair yang dapat memberikasn pendapatan (liquid earning assets) dengan tingkat resiko yang sangat minimum yang terdiri atas surat-surat berharga (sekuritas) yang sangat ’koran’ (laku keras) yang fungsinya untuk membantu likuiditas”.


Apa yang dapat mempertahankan suatu cadangan kas?

                Mempertahankan cadangan kas bisnis dapat dianalogikan dengan mempertahankan rekening tabungan pribadi. Sama seperti tabungan pribadi, kita dapat bertindak sebagai pelindung nilai terhadap masalah keuangan yang tak terduga (seperti kehilangan pekerjaan atau kematian pasangan), cadangan kas yang dapat membantu melewati perubahan permintaan pasar dan membayar biaya bisnis yang tidak terduga. Sebuah cadangan kas juga dapat membantu bisnis untuk mempersiapkan peluang bisnis yang baru.


Pengaruh Arus Kas Terhadap Cadangan Kas

Arus kas adalah pengukuran jumlah uang yang mengalir masuk dan keluar dari bisnis selama periode waktu tertentu, seperti seminggu atau sebulan. Pada akhir periode waktu yang ditentukan, jika bisnis telah menerima uang lebih dari yang sudah dihabiskan, itu akan memiliki arus kas positif. Khususnya dalam tahap awal bisnis, kas seringkali merupakan faktor yang paling penting untuk memastikan kesuksesan. Jika sebuah perusahaan kehabisan uang tunai dan tidak mampu untuk memenuhi pengeluaran saat ini, bisnis kemungkinan bangkrut. Kecuali jika bisnis tersebut memiliki arus kas positif, mungkin sulit untuk membangun cadangan kas rekening tabungan.

Kemampuan bisnis untuk mempertahankan cadangan kas akan tergantung pada arus kas secara keseluruhan dan kehidupan bisnis tahap siklus di mana ia menemukan dirinya. Biasanya, bisnis melalui empat tahap: start-up, pertumbuhan, kedewasaan, dan penurunan. Start-up perusahaan biasanya memiliki biaya yang sangat tinggi, dan arus kas sedikit atau tidak ada dan cadangan kas, karena bisnis ini belum membuat penjualan. Jika bisnis Anda pada tahap ini, Anda mungkin tidak mampu membeli banyak cadangan kas pada awalnya, tetapi Anda pasti ingin mendirikan satu setelah perusahaan Anda mulai menghasilkan kas yang cukup. Selama tahap pertumbuhan dan kematangan, mempertahankan cadangan kas akan sangat penting, baik untuk melindungi nilai terhadap masalah yang tak terduga dan untuk membiayai ekspansi melalui reinvestasi modal. Setelah berkonsultasi dengan penasihat keuangan Anda, Anda harus mempertimbangkan pembentukan rekening kas cadangan yang terpisah di lembaga keuangan. Banyak bank-bank komersial akan menawarkan berbagai alternatif cadangan kas serta beberapa bantuan terbatas dengan proses manajemen kas.

Kas rekening cadangan paling sering dibentuk di bank komersial. Ketika mempertimbangkan alat investasi, anda akan perlu menyeimbangkan aksesibilitas untuk uang dengan suku bunga. Namun, aksesibilitas untuk uang benar-benar harus menjadi pertimbangan utama Anda ketika memilih jenis account untuk dana cadangan kas. Jika cadangan kas Anda relatif kecil, Anda akan ingin dapat mengaksesnya bila diperlukan tanpa menimbulkan penalti. Bila cadangan kas lebih besar, Anda mungkin dapat menempatkan sebagian uang di rekening menawarkan suku bunga lebih tinggi. Pada dasarnya, ada tiga jenis account yang paling sering digunakan untuk memegang dana cadangan kas usaha kecil : 
(1) rekening deposito pasar uang, 
(2) sertifikat deposito dan deposito berjangka lainnya, dan 
(3) reksadana pasar uang atau surat berharga. Ada keuntungan dan kerugian untuk masing-masing.

Ada juga kemungkinan untuk menggunakan kredit sebagai sumber dana tunai darurat. Namun, kebutuhan untuk membayar kembali pinjaman tersebut dikombinasikan dengan beban bunga tinggi, alternatif ini kurang diinginkan dari akun cadangan tunai. Namun demikian, disarankan untuk memiliki jalur kredit tersedia untuk digunakan ketika Anda membutuhkannya.


Strategi yang dapat digunakan untuk membangun cadangan kas

Ada sejumlah cara untuk membangun cadangan kas. Misalnya, Anda bisa menitipkan sebagian dari kelebihan kas yang dihasilkan oleh bisnis Anda ke dalam account ini secara sistematis. Selain itu, Anda dapat menambahkan sebagian pendapatan dari investasi lain bisnismu ke rekening. Anda juga dapat mengurangi pengeluaran dan menambah uang yang disimpan atas perkiraan cadangan. Suatu cara yang bijaksana untuk memvariasikan investasi Anda  sampai tanggal jatuh tempo. Misalnya, tidak hanya menginvestasikan semua uang Anda dalam satu tahun sertifikat deposito, Anda juga bisa berinvestasi dalam hal lain dengan tanggal jatuh tempo yang berbeda sehingga keuntungan akan datang pada waktu yang berbeda juga. Kombinasikan investasi lain Anda dengan beberapa investasi surat berharga untuk mendapatkan bunga lebih tinggi. Gunakan pendekatan investasi multitier dengan menggabungkan sejumlah alat cadangan kas berbeda dengan jalur kredit dan mungkin nilai tunai polis asuransi jiwa. (jenis kebijakan ini memungkinkan Anda untuk berkesempatan membangun uang tunai yang kemudian dapat anda tarik untuk kegunaan lain. Perlu diketahui bahwa pinjaman atau penarikan akan menurunkan pembayaran akhir.) Pastikan untuk meninjau rekening kas cadangan Anda secara berkala untuk menyesuaikan keseimbangan rekening yang diperlukan.


Apakah ada kerugian untuk mempertahankan suatu cadangan kas?

Mempertahankan cadangan kas penting bagi bisnis anda sebagai rekening tabungan pribadi untuk Anda. Namun demikian ada kelemahan besar yang penting untuk diingat, yaitu: biaya peluang terlibat ketika kas Anda masih relatif menganggur. Idealnya, kelebihan kas harus diinvestasikan kembali ke dalam bisnis Anda atau diinvestasikan dalam jangka panjang sebagai alat untuk mendapatkan suku bunga atas. Mempertahankan rekening kas cadangan bank menghalangi Anda dari uang reinvestasi modal dan mungkin menghasilkan keuntungan yang jauh lebih kecil daripada yang dapat diperoleh sebaliknya.

Referensi :

Use and Source of Fund

Tugas Bank dan Lembaga keuangan 2 - Bapak Dr. Prihantoro






Dalam bank terdapat 2 sisi neraca yaitu passiva yang menggambarkan sumber dana (  Source of fund ) dan sisi aktiva yang menggambarkan penggunaan atau alokasi dana ( Use of fund ) yang harus dikelola secara efisien dan seoptimal mungkin. Kedua sisi pada neraca ini merupakan bagaimana bank mengelola dana dari masyarakat atau dari modal sendiri.
Disisi passiva terdapat invstasi lain berupa sekuritas. Sekuritas tersebut berupa obligasi dan dapat dijual di pasar modal.  Bank dapat mencari uang dari pasar modal tersebut. Dalam hal ini deposit harus lebih besar dari sekuritas karen  sekuritas tidak dapat digunakan sebagai sarana penyalur masyarakat yang surplus. Selain itu juga ada capital atau modal tempat saham berada.
Source of fund ada 3 sumber yaitu demand deposit, saving deposit dan time deposit. Ketiga hal tersebut berhubungan dengan fungsi uang itu sendiri yaitu untuk transaksi, berjaga-jaga dan untuk investasi.

a.         Demand Deposit (Giro)
Simpanan giro merupakan simpanan pada bank yang penarik­annya dapat dilakukan dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Kepada setiap pemegang rekening giro akan diberikan bunga yang dikenal dengan nama jasa giro. Besarnya jasa giro tergantung dari bank yang bersangkutan. Rekening giro biasa digunakan oleh para usahawan, baik untuk perorangan maupun perusahaannya. Bagi bank jasa giro merupakan dana murah ka­rena bunga yang diberikan kepada nasabah relatif lebih rendah dari bunga simpanan lainnya.

b.      Saving Deposit (Tabungan)
     Merupakan simpanan pada bank yang penarikan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan oleh bank. Penarikan tabungan di­lakukan menggunakan buku tabungan, slip penarikan, kuitansi atau kartu Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kepada pemegang rekening tabungan akan diberikan bunga tabungan yang meru­pakan jasa atas tabungannya. Sama seperti halnya dengan re­kening giro, besarnya bunga tabungan tergantung dari bank yang bersangkutan. Dalam praktiknya bunga tabungan lebih besar dari giro.

c.       Time Deposit (Deposit)
      Deposito merupakan simpanan yang memiliki jangka wak­tu tertentu (jatuh tempo). Penarikannyapun dilakukan sesuai jangka waktu tersebut. Namun saat ini sudah ada bank yang memberikan fasilitas deposito yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat. jenis deposito pun beragam sesuai dengan keinginan nasabah. Dalam praktiknya jenis deposito terdiri dari deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call.

      Untuk aset (use of fund)  bila bertambah di Debet dan berkurang di Kredit. Sedangkan untuk liabilities (source of fund) bertambah di kredit dan berkurang di debet.
Demand Deposit ( giro)
Seperti yang telah di jelaskan tadi giro merupakan simpanan pada bank yang didapat diambil dengan menggunakan cek atau bilyet giro. Ada perbedaan antar keduanya, cek bisa diambil oleh siapa saja sedangkan bilyet giro hanya dapat di ambil bila ada pindah buku atau pengambilan atas nama. Berbicara tentang giro berbicara juga tentang kliring dan transfer.

KLIRING

Kliring adalah adalah  suatu  tata  cara  perhitungan  utang  piutang  dalam  bentuk  surat-surat  dagang  dan  surat-surat  berharga  dari  suatu  bank  terhadap  bank  lainnya,  dengan  maksud  agar  penyelesaiannya  dapat  terselenggara  dengan  mudah dan  aman. Kliring ini terjadi antara bank berbeda dalam satu wilayah.
Dibawah ini akan dijelaskan ilustrasi tentang mekanisme kliring:




Dalam bagan kliring diatas dapat dilihat bahwa Danny adalah nasabah dari bank A di Jakarta dan Nuri adalah nasabah dari bank B di jakarta. Danny memberikan cek kepada Nuri sebesar 50 juta. Cek yang di berikan Danny kepada Nuri merupakan cek dari bank A, Bila Nuri ingin mencairkan langsung cek tersebut di bank B tidak bisa karena bank B harus melakukan konfirmasi dahulu kepada bank A. Konfirmasi tersebut dilakukan lewat sebuah perantara yaitu Bank Indonesia. Dalam prosedur kliring, Bank Indonesia bertugas memberikan syarat dan menetapkan Giro Wajib Minimum ( R/K pada BI) kepada setiap bank yaitu 8% dari deposit . GWM tersebut dicatat sebagai liabilities oleh BI.
Bila Nuri ingin mencairkan cek yang telah ia terima dari Danny dan ingin memasukan uangnya ke tabungannya di bank B, maka bank B harus mengajukan surat kepada BI yang disebut Nota Debet Keluar lalu BI akan menerima dan menyampaikannya kepada Bank A dan disebut Nota Debet Masuk. Bila telah berhsil disepakati maka BI dapat memindahkan saldo rekening koran bank A ke Bank B.

Maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah:
Untuk Bank Indonesia:
       R/K Bank A (D)
              R/K Bank B (K)
Bank A:
                Giro ( D )
     R/K pada BI (K)
Bank B:
                R/K pada BI (D)
                                  Tabungan Nuri (K)

   Yang selanjutnya adalah pemberian hadiah sebesar Rp 100 juta yang dilakukan Nuri kepada Danny. Nuri memberinya lewat bank B, maka bank B harus mengirimkan Nota Kredit keluar ke BI lalu BI akan mengirimkan Nota kredit masuk ke bank A. Dan jurnalnya menjadi seperti ini:
Untuk Bank Indonesia:
      R/K Bank A (D)
              R/K Bank B (K)
Bank A:
                R/K pada BI ( D )
     Giro (K)
Bank B:
                Tabungan Nuri (D)
     R/K pada BI (K)

    Lain cerita apabila ternyata dari transaksi kedua saldo tabungan Nuri tidak sampai Rp 100 juta maka bank B berhak mengirim surat kepada BI lalu BI mengirimnya kembali ke bank A. Hal ini disebut penolakan kliring. Apabila terjadi penolakan kliring maka jurnalnya adalah sebagai berikut:
Untuk Bank Indonesia:
       R/K Bank B (D)
              R/K Bank A (K)
Bank A:
                Tabungan Nuri ( D )
    R/K pada BI (K)
Bank B:
                R/K pada BI (D)
                                 Giro (K)

Surat
Saldo di BI
Nota Debet Keluar
-
Nota Debet Masuk
+
Nota Kredit Keluar
+
Nota Kredit Masuk
-
Tolakan
+/-
Jumlah
+/-

Jika saldo di BI plus (+) maka bank tersebut menang kliring dan dengan begitu dana di BI akan bertambah. Begitupun sebaliknya, bila saldo minus (-) maka bank tersebut kalah kliring. Contohnya adalah seperti berikut:
Danny mendepositokan uangnya 100 juta di Bank A
Giro Wajib Minimum (GWM) = 8% à 0,8 x 100 juta =      8 juta
Kalah kliring à                                                           2 Juta –
Total Saldo                                                               6 Juta

Nuri mendepositokan uangnya 100 juta di Bank B
GWM 8% à                       10 juta (8% GWM; 2% ER(kelebihan GWM))
Menang kliring à                 2 juta +
Total saldo                       12 Juta

         Dari contoh diatas dapat dilihat bahwa jumlah dari saldo bank A karena kalah kliring adalah 6 juta. Jumlah tersebut kurang dari GWM yang telah di tetapkan BI sebesar 8% dari deposito nasabahnya. Karena saldo bank A tidak mencukupi maka bank A tidak dapat menyerahkan uang tunai ke BI. Untuk bisa melakukannya bank A harus meminjam kepada bank yang memenangkan kliring. Pinjaman itu disebut call money. Namun bila call money terjadi terus-menerus dan bank yang meminjam tidak bisa melunasi utangnya maka Bank Indonesia memiliki wewenang untuk melikuidasi bank tersebut. Kembali lagi pada contoh, berarti bank A harus harus meminjam sebesar 2 juta kepada bank B. Tentu saja dengan hitungan bunga, hitungan bunga pada kliring in biasanya dengan hitungan per night atau per malam. Tetapi dengan syarat, apabila bank B memberikan pinjamannya kepada bank A, GWM bank B juga tidak boleh kurang dari 8%.

           TRANSFER

     Transfer merupakan pemindahan sejumlah uang atau giro pada bank yang sama tetapi berada pada wilayah yamg berbeda secara tunai maupun rekening.dalam transfer ini juga disebut Rekening Antar Kantor (RAK).
Mekanisme transfer adalah sebagai berikut:




Dalam contoh ini, Danny sebagai nasabah bank BRI yang ada di Jakarta ingin mengirimkan giro kepada saudaranya yang ada di Maluku. Tentu giro tersebut tidak bisa langsung sampai ke Maluku bila tidak berada pada satu wilayah. Untuk itu perlu adanya bank yang berada dalam satu wilayah, pada gambar di atas, maka bank BRI yang ada di Jakarta harus melakukan transfer ke Bank BRI yang ada di Manado lalu bank BRI Manado melakuykan kliring ke BPD Maluku yang ada di Manado juga, kemudian barulah BPD Maluku di Manado bisa menransfer ke BPD Maluku yang ada di Maluku.



    


     Berbeda dengan bagan ini, Danny di Jakarta ingin melakukan transfer ke Nuri yang ada di Maluku lewat Bank Niaga, namun Bank niaga hanya ada di Jakarta saja, di tempat lain tidak ada termasuk di Maluku. Maka giro Danny akan di kliring terlebih dahulu ke Bank BRI di jakarta lalu oleh bank BRI giro tersebut di transfer ke bank BRI di Makasar selanjutnya oleh bank BRI Makasar akan di kliring kembali ke BPD Maluku, barulah BPD Maluku bisa mentransfer giro dari Danny untuk Nuri ke BDP Maluku.

    
    Nuri yang sedang berada di china akan mentransfer giro ke Danny yang berada di Jakarta. Ada dua cara yang dapat digunakan untuk mengirim giro tersebut. Yang pertama adalah dengan bank draft. Bank draft yang dikirim Nuri ke Danny harus dimasukkan ke Bank of China dan surat tersebut akan dikirim lewat pos antar negara. Sesampainya di tangan Danny, surat tersebut bisa ditukarkan ke Bank Mandiri yang ada di Jakarta. Yang kedua adalah dengan payment order yang dikirimkan Bank of China ke bank Mandiri. Lalu bank Mandiri akan memanggil Danny untuk mengambil uang yang telah dikirim tersebut. Transaksi ini dapat berjalan apabila kedua bank tersebut mempunyai hubungan Correspondent Bank.

             PORTOFOLIO KEUANGAN

    Dalam Assets terdapat Cash Reserves yang dapat digunakan untuk penentu likuiditas. Cash reserves ini uangnya hanya berasal dari deposit, kecuali ia mempunyai call money sehingga melibatkan sekuritas. Selanjutnya di asset juga ada Loan. Loan ini berasal dari deposit dan dari capital. Ada dua aturan Loan, yaitu:
1.       LDR ( Loan to Deposit Ratio) à melibatkan modal pada setiap kredit. Modal harus 10% sehingga hasil maksimalnya harus 110%.
2.       KUK (Kredit  Usaha Kecil)/KIK (Kredit Investasi Kecil)à minimal 20% dari Loan. KUK harus diambil dari tabungan karena bila diambil dari giro dan deposito akan menyebabkan Negative Miss Match yaitu dana yang lebih tinggi dipinjamkan dengan dana yang lebih rendah atau dana jangka panjang digunakan untuk mendanai jangka pendek.

        PEMBERIAN NOMOR REKENING

    Setiap nasabah pada bank tertentu mrmiliki nomor nasabah dan nomor rekening yang berbeda. Setiap kantor bank juga mempunyai nomor untuk mempermudah pengelompokan di neraca Assets dan Liabilities (deposit).
    
    Setiap hari bank selalu melakukan proses akhir hari atau saldo rekening berdasarkan transaksi yang terjadi setiap hari. Perhitungan saldo akhir bulan yaitu:

             Saldo Akhir Bulan = Saldo Akhir Hari + Bunga


        PERHITUNGAN BUNGA TABUNGAN

         Perhitungan Bunga tabungan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu:
  • Saldo terendah dihitung dengan cara melihat saldo terendah dalam satu bulan
  • Saldo rata-rata, yaitu dengan merata-ratakan saldo dalam satu bulan.
  • Saldo Harian yaitu dengan menghitung bunga setiap hari selama saru bulan lalu dijumlahkan.
c
           Contoh:




RUMUS PERHITUNGAN BUNGA TABUNGAN

    PERHITUNGAN BUNGA KREDIT

Ada dua cara untuk menghitung bunga kredit, yaitu:
  1. Flat ( fix rate). Contoh --> Leasing




Misal: Nuri meminjam uang sebesar 20 juta. Tingkat bunga 10% per tahun. Nuri meminjam selama 3 tahun. Maka tingkat bunga berubah menjadi 30%/3 tahun untuk pinjaman 20 juta. Perhitungannya menjadi :

2. Annuitas. Contoh --> Kredit

Dari kedua cara ini, bank cenderung lebih suka menggunakan cara flat (fix rate).